MENJAGA ETIKA KOMUNIKASI DALAM INTERAKSI SEHARI-HARI
MENJAGA ETIKA KOMUNIKASI DALAM INTERAKSI SEHARI-HARI
A.
Apa Itu Etika Komunikasi
Istilah etika
berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu Etos artinya kebiasaan tingkah
laku manusia, adat, akhlak , watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir. Kemudia
etika berasal dari bahasa Inggris Ethics, artinya pengertian, ukuran tingkah
laku atau perilaku manusia yang baik. Serta etika bersala dari latin Mos/Mores
artinya moral yang berarti juga adat, kebiasaan, sehingga makna kata moral
dan etika adalah sama.[1]
Etika merupakan
hal yang sangat penting diterapkan dikehidupan sehari-hari baik itu pada usia
anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Karena etika tidak memandang dari
segi umur, melainkan bagaimana tata krama kita terhadap yang lebih muda dan
kepada yang lebih tua dari pada kita. Untuk itu kita harus paham bagaimana
menggunakan kata-kata yang tepat dan sopan agar orang lain tidak tersinggung
dengan ucapan kita.
Dalam
berkomunikasi antar manusia haruslah beretika dan tidak menyinggung hati orang
lain, karena ada kata pepatah mengatakan
bahwa yang paling tajam didunia ini bukanlah pisau melainkan lidah manusia,
artinya lidah(lisan) ini sangatlah berbisa dan membekas dihati manusia.
Apabila sudah terpendam dalam hati seseorang terhadap kata-kata yang
merendahkan dirinya ataupun segala hal yang menyinggung dirinya, pasti itu akan
menjadi sebuah dendam dan membekas dihati walaupun ia sudah memaafkannya.
B.
Ciri Komunikasi Sehari-hari yang Baik
Dalam kehidupan
sehari-hari perlu memahami cara komunikasi yang baik agar orang lain tidak
mudah salhpaham ataupun tersinggung atas ucapan kita.
1.
Jadilah
pendengar yang baik
Artinya
adalah bahwa kita sebagai manusia yang saling tukar pikiran dan saling memberi
nasehat, kita harus bisa menyampaikan kata-kata yang tepat dan untuk menjadi
pendengar yang baik adalah bukti bahwa kita menghargai dirinya dalam bercerita
atau berkomunikasi bersama kita.
2.
Jujur
Ketika
berkomunikasi dengan orang lain usahakanlah berkata jujur agar orang lain bisa
percaya dengan apa yang kita katakan. Kepercayaan ini sangtlah modal yang
mahal, artinya bahwa dalam islam saja dianjurkan untuk jujur disetiap tindakan.
Beda halnya jika kita berinteraksi dengan pencuri, penculik, pembunuh itu boleh
saja kita berbohong demi menjaga nyawa kita yang terancam. Sebagaimana dalam
(Q.S. Al-Ahzab:70)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ
وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan
ucapkanlah perkataan yang benar,
3.
Tidak
berdusta
Ini sama halnya
dengan berkata jujur akan tetapi disini konsepnya adalah tidak berdusta antara
yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Berarti disini posisinya harus
sejalan dengan yang disampaikan dengan yang dilaksanakan/lakukan. Sebagaimana
dalam (Q.S. As-Saff:2)
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan
sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
Berdusta sama halnya dengan orang-orang munafik, yang sering kali
selalu mengatakan tetapi tidak ada tindakan.
4.
Qaulan
sadida, artinya bijak atau kata benar
5.
Qaulan
ma’rufa, artinya kata baik dan tepat
6.
Qaulan
baligha, artinya kata jelas atau sampai
7.
Qaulan
maysura layyinan, artinya kata
luwes atau lembut
8.
Qaulan
karima, artinya kata jujur atau mulia.
9. Larangan mencaci, mencela, dan berkata keji.
"Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah berkata keji, melaknat dan mencela,
apabila beliau hendak mencela, maka beliau akan berkata: "Mengapa dahinya
berdebu (dengan bahasa sindiran)." (HR. Bukhari No: 5586).
Diantar
sifat tak terpuji yang mesti dihindari seorang muslim meliputi mencela,
mencaci, dan berkata kotor, karena muslim telah memiliki pedoman yang dapat
dijadikan acuan dalam kehidupan[2]
Dari penjelasan diatas telah jelas bahwa apa saja komunikasi yang baik dan buruk serta apa konsekuensinya. Adapun hadist yang dapat memperkuat ciri-ciri komunikasi diatas yaitu:
Berdasarkan
hadits diceritakan bahwa “Abu Hurairah dia mendengar Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat
tanpa diteliti yang karenanya ia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur."
(HR. Bukhari No: 5996)[3]
Hadits tersebut
menurut Ibnu Hajar adalah ungkapan peringatan agar menghindari tutur kata yang
buruk, yang tidak penting untuk didengarkan atau bahkan dapat menyakiti
perasaan seseorang.[4]
Lisan yang terjaga dapat menjadi patokan seseorang berada dalam kebenaran atau
kebathilan.
Kesimpulan yang
dapat penulis simpulkan adalah tetaplah menjaga tutur kata yang baik dan
gunakan kata-kata yang sewajarnya saja. Jangan sempat orang lain yang mendengar
perkataan kita tersinggung walaupun itu hanya sebatas bercanda. Karena kita
tidak tau apakah orang itu menganggap hal tersebut suatu bercandaan atau tidak
jadi berhati-hatilah dalam bertutur kata, dan sesuaikan dengan siapa kita berinteraksi.
Daftar Pustaka
Al-Asqalânî , Ibn
Hajar. Fath Al-Bârî Bi Syarh Shahîh Al-Bukhârî. Kairo: Dâr al-Rayyân li
alTurâts. 2009.
Al-Hisyam , Muhammad Ali. Jati Diri Muslim. Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar. 1999.
al-Mughirah
AlBukhari , Muhammad bin Ismail bin. Shahih Al-Bukhari. Riyadh: Maktabah
alRusyd. 2006.
Burhan , Asmawati. Buku Ajar
Etika Umum. Yogyakarta: Cv Budi Utama. 2019.
[1] Asmawati Burhan,
S.S.T., S.A.P., Buku Ajar Etika Umum, (Yogyakarta: Cv Budi Utama, 2019),
hlm. 2-3.
[2] Muhammad Ali
Al-Hisyam, Jati Diri Muslim (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999). 199.
[3] Muhammad bin
Ismail bin al-Mughirah AlBukhari, Shahih Al-Bukhari (Riyadh: Maktabah
alRusyd, 2006). 897.
[4] Ibn Hajar
Al-Asqalânî, Fath Al-Bârî Bi Syarh Shahîh Al-Bukhârî (Kairo: Dâr
al-Rayyân li alTurâts, 2009). 267.
Komentar
Posting Komentar